Tata Terus Menghukum Pekerja Teh India

Hampir seribu pekerja beserta keluarganya terus menderita akibat hukuman kolektif yang dijatuhkan Grup Tata India.

Pekerja di Perkebunan Teh di Bengali Barat, India, hidup tanpa upah, tunjangan makanan atau ransum sejak 14 September sampai 12 Desember tahun lalu menyusul aksi mereka pada Agustus untuk memprotes perlakuan manajemen terhadap Sdri. Arti Oraon, pekerja perkebunan teh berusia 22 tahun yang tidak memperoleh cuti bersalin dan diharuskan memetik teh sekalipun usia kehamilannya sudah 8 bulan.

Menghadapi protes ini, manajemen menghentikan operasional selama dua minggu dan membuka kembali pada 8 September namun dengan syarat bahwa 8 pekerja yang dituduh bertanggung jawab terhadap aksi spontan tersebut diberi sanksi skorsing. Ketika pekerja meminta waktu sebelum memberi jawaban, manajemen lagi-lagi menutup perkebunan pada 14 September.

Selama tiga bulan, yakni sampai 12 Desember, para pekerja tidak mendapat upah atau makanan selain jatah ransum satu kali sehari dari pemerintah setempat yang sedianya hanya untuk keadaan darurat seperti untuk korban bencana alam. Penutupan ini jelas-jelas ingin memberi pelajaran pada pekerja: jika ingin makan, jangan pernah pergunakan hakmu untuk protes!

Perkebunan Nowera Nuddy kemudian dibuka pada 12 Desember menyusul sebuah pertemuan sehari sebelumnya antara manajemen, serikat pekerja dan Wakil Kadisnaker setempat. Peter Unsworth dari Tetley menyatakan bahwa kini telah tercapai sebuah kesepakatan yang ‘terpuji’ untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Jika memang ada kesepakatan untuk agar pabrik bisa dibuka lagi, nyatanya pekerja melihat sebaliknya. Ke-delapan pekerja tetap terkena skorsing. Pekerja juga tidak menerima upah atau ransum yang sudah menjadi hak mereka selama pabrik ditutup.

Banyak pekerja, dan jumlahnya terus bertambah, yang menandatangani petisi yang diedarkan oleh Komite Aksi. Komite ini memimpin gerakan protes dengan dukungan IUF selama 3 bulan penutupan yang mengakibatkan ribuan pekerja terancam kelaparan. Petisi ini menuntut dibayarkannya upah penuh, ransum dan hak-hak lain yang seharusnya diberikan perusahaan selama penutupan; dipekerjakannya pekerja yang terkena skorsing dan perusahaan membayar upah, ransum dan lainnya kepada mereka; dibukanya kembali perkebunan tanpa syarat; permohonan maaf dan pemberian kompensasi terhadap Arti Oraon; dan komitmen manajemen agar hak pekerja hamil untuk mendapatkan tugas ringan sejak usia kehamilan 6,5 bulan dan cuti berbayar sejak usia kehamilan 7,5 bulan.

Tata Tea adalah perusahaan global yang kuat; Tetley Tea yang secara penuh dimiliki perusahaan ini adalah penghasil merk teh paling terkemuka di dunia. Perkebunan Teh Nowera Nuddy sendiri adalah milik Amalgamated Plantations Private Limited, sebuah perusahaan yang 49.98% sahamnya dimiliki Tata Tea. Tata dan Amalgamated berkantor di tempat yang sama di Kalkuta, ibukota Bengali Barat. Teh dari Perkebunan Amalgamated masuk ke kantung-kantung teh Tetley yang terkenal itu. Tetley Tea juga anggota Ethical Tea Partnership (ETP) yang standard bisnisnya harus dipatuhi oleh anggota. Salah satu ketetapan dalam standard ini adalah tidak diperkenankannya “perlakuan kasar atau tidak manusiawi ” kepada pekerja perkebunan.

Perjuangan demi keadilan masih berlangsung di Nowera Nuddy, dipimpin oleh Komite Aksi pekerja. Anda bisa memberi dukungan dengan – klik di sini untuk mengirim pesan kepada Tata/Tetley!

0 Responses to “Tata Terus Menghukum Pekerja Teh India”


Comments are currently closed.