Para Pekerja Memenangkan Kompensasi Upah Untuk Penutupan Secara Illegal Pabrik Unilever Dharwad Di India, Tetapi Ceknya Ditolak

Delapan tahun setelah penutupan ilegal dari pabrik Unilever India di Dharwad negara bagian Karnataka, 42 pekerja akhirnya menerima kompensasi upah dengan Pengadilan Buruh yang memerintahkannya kepada perusahaan tersebut. Tetapi ketika mereka akan mencairkan cek-cek mereka bulan ini… cek-cek tersebut ditolak karena “saldo/ dana tidak cukup”.

Ini mengejutkan 42 pekerja tersebut, anggota-anggota serikat Pekerja Lever Hindustan yang berafiliasi dengan IUF, yang akhirnya telah memenangkan pertikaian selama delapan tahun melawan penutupan ilegal pabrik Dharwad.

Tetapi perjuangan ini menceritakan penyalahgunaan yang sistematis dari Unilever terhadap konsesi pajak di India. Unilever terus menutup pabrik-pabrik dan me-relokasi produksi dari satu daerah pedesaan ke daerah lainnya seraya mengejar konsesi pajak dan subsidi dari pemerintah-pemerintah lokal secara kompetitif. Di kebanyakan kasus ini melibatkan penghancuran pekerjaan-pekerjaan yang berserikat dan menciptakan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya, dan tidak berserikat di daerah-daerah dimana kepentingan politik cenderung mengabaikan pelanggaran yang dilakukan perusahaan tersebut terhadap hak-hak pekerja.

Ini juga melibatkan penutupan ilegal pabrik-pabrik secara cepat untuk memperoleh konsesi pajak baru. Seperti yang kita telah lihat di Dharwad dan juga di Mumbai, manajemen Unilever ahli dalam memalsukan kondisi-kondisi untuk penutupan pabrik yang melibatkan serangkaian kebohongan dan penipuan yang seringkali memakan waktu tahunan untuk diungkap di pengadilan.

Pabrik Dharwad didirikan tahun 1993 sebagai suatu cabang dari Hindustan Lever. Ketika pertama kali pabrik ini dibuka di daerah pedesaan yang “terbelakang” di Dharwad, pabrik ini telah diberikan konsesi pajak yang ekstensif.

Pada bulan Januari 1999, setelah konsesi pajak berakhir, pihak manajemen secara rahasia menutup pabrik dalam 12 bulan berikutnya. Setengah dari permesinan dan alat produksi dipindahkan ke unit-unit Hindustan Lever lainnya, sedang para pekerja diberikan “surplus” dan tugas-tugas manual yang kasar seperti memotong rumput dan pekerjaan aneh lainnya. Semua supervisor, petugas produksi, petugas teknis, dan petugas akun/keuangan dipindahkan ke unit-unit lain dari perusahaan tersebut.

Pada 11 Maret 2000 semua operasi di pabrik itu berhenti. Lebih dari 8 bulan berikutnya serikat buruhnya melawan balik, pada akhirnya memenangkan kesepakatan dengan manajemen pada Oktober 2000. Tetapi dalam 24 jam manajemen melanggar kesepakatan dan mencoba menghindar dari tanggung jawab. Berikutnya adalah pertikaian selama tujuh tahun di pengadilan dengan serikat buruh tentang penutupan ilegal pabriknya dan pemberhentian ilegal dari kepegawaian 42 anggota serikat.

Pada akhirnya di 1 September 2007 Pengadilan Buruh Hubli Karnataka memutuskan dengan keberpihakan pada para pekerja dan memberikan mereka upah penuh dengan bunga 8% dan pemekerjaan kembali di unit-unit Hindustan Lever lainnya, diutamakan dekat dengan negara bagian Karnataka. Tetapi setahun kemudian ketika perusahaan tersebut kemabli mengeluarkan cek-cek untuk upah selama 7 tahun (plus bunga), cek-cek tersebut ditolak! Setelah beberapa hari para pekerja akhirnya mendapatkan uang tunai mereka.

Dalam banyak hal, cek-cek yang kembali atau ditolak menceritakan Unilever sekarang ini. Sejalan dengan Unilever secara global melikuidasi aset-asetnya untuk mengucurkan lebih banyak uang kepada para pemegang saham, modal kapital pabrik-pabriknya telah turun ke level terendah dalam sejarah perusahaan. Mungkin lebih banyak pekerja di seluruh dunia akan segera mengetahui bahwa salah satu dari perusahaan pangan dan barang-barang rumah tangga & barang-barang untuk kebersihan diri memiliki “dana yang tidak cukup” ….

  • Facebook
  • Twitter
  • del.icio.us
  • Digg

0 Responses to “Para Pekerja Memenangkan Kompensasi Upah Untuk Penutupan Secara Illegal Pabrik Unilever Dharwad Di India, Tetapi Ceknya Ditolak”


Comments are currently closed.