Hampir seribu pekerja beserta keluarganya terus menderita akibat hukuman kolektif yang dijatuhkan Grup Tata India.
Pekerja di Perkebunan Teh di Bengali Barat, India, hidup tanpa upah, tunjangan makanan atau ransum sejak 14 September sampai 12 Desember tahun lalu menyusul aksi mereka pada Agustus untuk memprotes perlakuan manajemen terhadap Sdri. Arti Oraon, pekerja perkebunan teh berusia 22 tahun yang tidak memperoleh cuti bersalin dan diharuskan memetik teh sekalipun usia kehamilannya sudah 8 bulan. Selanjutnya…
Di minggu-minggu di penghujung 2009, serikat yang beranggotakan lebih dari 1.200 pekerja Nestlé India di pabrik Moga, Ponda dan Bicholim memenangkan perjuangannya dengan menandatangani PKB yang mengatur upah dan tunjangan untuk pertama kalinya – sebuah pencapaian besar setelah memperjuangkan hak perundingan upah selama setahun. Perjanjian ini juga mencakup skala upah dan struktur upah yang transparan yang sebelumnya dianggap ‘rahasia’ oleh manajemen. Selanjutnya…
Prinsip-prinsip Bisnis Perusahaan Nestlé “menghargai hak pegawai untuk membentuk organisasi perwakilan dan untuk bergabung – atau tidak bergabung – dengan serikat buruh, dimana hak ini dipraktekkan secara bebas, dan mengadakan sebuah dialog konstruktif dengan serikat-serikat buruh ini.”
Jika pegawai membutuhkan bimbingan mengenai masalah ini, manajemen bersedia membantu.
Bisnis berjalan baik di pabrik Nescafé di Panjang, Indonesia. Tiga perempat hasilnya diekspor ke negara-negara maju. Perusahaan tersebut mempekerjakan orang. Selanjutnya…
Serikat buruh NSW (organisasi yang mewakili serikat-serikat buruh di negara bagian New South Wales) memimpin aksi protes di kantor pusat Australasia di Sydney dalam mendukung pekerja lepas Lipton di Pakistan. Anggota-anggota dari serikat-serikat buruh persaudaraan – Serikat Buruh Maritim Australia (MUA) dan Serikat Buruh Konstruksi, Kehutanan, Tambang dan Energi dan Serikat Buruh Manufaktur Australia (AMWU) dan Serikat Buruh Australia (AWU) yang berafiliasi dengan IUF – bergabung dalam aksi protes tersebut.
Cathy-May Gill, anggota dari AMWU dan pekerja di Streets Ice Cream (yang dimiliki oleh Unilever) bertanya, “Bagaimana seseorang bisa hidup dengan upah yang begitu rendah? Bagaimana bisa berkeluarga? Masalah-masalah ini di Pakistan menunjukkan begitu buruknya sistem outsourcing dan kasualisasi itu sebenarnya.” Selanjutnya…
Di bawah hukum relasi industri yang baru pemerintahan Rudd, klausul fleksibilitas perlu melibatkan semua kesepakatan perusahaan, dan majikan menggunakan kesempatan tersebut untuk melemahkan perjanjian kerja bersama. Serikat Pekerja Manufaktur Australia (AMWU) dan serikat-serikat buruh Australia lainnya menantang dorongan majikan melalui aksi tempat kerja. “Tiba-tiba kami mendapati para majikan ingin meninjau isu ini”, kata Sekretaris Nasional AMWU Dave Oliver. “Kami menolak ide bahwa majikan bisa mencari kesepakatan dengan individu yang akan melemahkan perjanjian kerja bersama dan juga merugikan individu pekerja tersebut.” Taktik majikan yang paling umum adalah untuk menekan masing-masing majikan untuk mendaftarkan jam-jam yang biasanya termasuk jam lembur. AMWU mendorong pengaturan pekerjaan yang fleksibel, tetapi bukan menggantinya dengan mengurangi keselamatan kerja dan kondisi kerja yang aman melalui penawaran kolektif. Selanjutnya…
Serikat Pekerja Produk Susu Selandia Baru terlibat dalam pergulatan rumit dengan majikan yang tak kenal belas kasihan yang menyerang hak-hak pekerjaan yang mendasar, dan memerlukan dukungan Anda.
Pertikaian tersebut terjadi di pabrik Waharoa Open Country Cheese, salah satu dari tiga pabrik bahan-bahan susu dan keju perusahaan tersebut. Open Country adalah penghasil produk susu terbesar kedua di Selandia Baru. Pabrik tersebut dibangun pada kebangkitan restrukturisasi industri pemerintah tahun 2001 yang yang menghapuskan satus penjual tunggal dari Dairy Board, yang memperkenankan perusahaan-perusahaan mandiri produk susu untuk berproduksi dan mengekspor. Open Country telah menggunakan deregulasi untuk mengejar model “jalan rendah” untuk industrinya. Di Waharoa, para pekerja baru-baru ini bergabung dengan serikat buruh dalam menanggapi proposal dari manajemen tentang kondisi-kondisi kerja yang berbahaya yang telah merendahkan melalui jam-jam panjang dan tak kenal bersosialisasi serta penyalahgunaan pekerja-pekerja “temporer” – seringkali bertahun-tahun. Selanjutnya…

Dari Kiri: Helen Kelly (Presiden, NZCTU), Karl Anderson (Secretaris Sektor TES, NDU), Fiona McQueen (Pengelola Nasional - Makanan, EPMU), Neville Donaldson (Asisten Secretaris Jenderal, SFWU), Roger Middlemass (NMWU), Peter Conway (Secretaris Jenderal, NZCTU), James Ritchie ( Secretaris Jenderal,DWU), Dave Eastlake (Secretaris Jenderal, NMWU), Ma Wei Pin (IUF-A/P Secretaris Regional).
Pada 18 September 2009, serikat buruh persaudaraan berafiliasi dengan IUF mewakili para pekerja pangan bertemu di Wellington, sebagai bagian kegiatan-kegiatan berlanjut dari Kelompok Serikat Pangan dan Minuman (FBUG) di Selandia Baru. FBUG dibentuk melalui Dewan Serikat Buruh Selandia Baru (NZCTU) untuk memperkenankan serikat-serikat buruh pangan berkordinasi dan berdiskusi tentang kegiatan-kegiatan dalam sektor tersebut. Pertemuannya diprakarsai oleh Presiden NZCTU Helen Kelly dan Sekretaris Jenderal Peter Conway. Sekretaris regional IUF Asia/Pacific Ma Wei Pin menghadiri pertemuan tersebut dan menghubungkan dengan perjuangan yang berlanjut dari pekerja-pekerja Nescafe di Indonesia untuk hak-hak perjanjian kerja bersama mengenai upah. Perwakilan-perwakilan Serikat Distribusi Nasional (NDU), Serikat Pekerja Pangan dan Layanan (SFWU), Serikat Pekerja Produk Susu (DWU), Serikat Pekerja Daging Nasional dan Serikat Pekerja Engineering / Teknik, Percetakan dan Manufaktur (EPMU) semua berikrar dan akan mendorong anggota-anggota mereka untuk bergabung dengan kampanye.
Fellesforbundet dan NNN, afilisiasi Norwegia IUF dengan keanggotaan di sektor pangan, bersama dengan pusa serikat buruh nasional LO telah menuntut secara publik kepada Kementrian Keungan untuk melakukan sebuah evaluasi untuk menentukan apakah investasi Dana Pensiun Negara di Nestlé sesuai dengan pedoman etika berinvestasi Dana.
Surat, yang ditandatangani juga oleh Sekretaris Jender Ron Oswald, menarik perhatian terhadap “pola sistematik pelanggaran hak-hak asasi manusia” oleh Nestlé, termasuk desakan perusahaan dalam memisahkan negoasiasi upah dari penawaran kolektif (yang terbaru di Indonesia dan India). Press release Fellesforbundet mengumumkan surat yang menggambarkan ini sebagai “pelanggaran jelas dari Konvensi ILO mengenai hak untuk mengelola dan menawar secara kolektif dan juga pelanggaran yang jelas terhadap pedoman etis Dana Pensiun Negara.” Surat tersebut juga “menarik perhatian Kementrian terhadap contoh-contoh lain dimana Nestlé tidak memenuhi tuntutan-tuntutan yang diharuskan oleh pedoman etis kepada perusahaan-perusahaan.”
Dana Pensiun Negara, yang hampir mencapai 400 Miliar Dolar AS dalam bentuk aset, adalah pemilik terbesar saham di Eropa dan ketiga terbesar dari “dana kekayaan kekuasaan” secara global. Dana investasi 2.85 miliar dolar AS di Nestlé adalah investasi terbesar keduanya.
Empat organisasi serikat mendesak Kementrian Keuangan untuk mengambil langkah-langkah untuk menekan Nestlé agar “menghargai Konvensi ILO yang fundamental dan pedoman etis dari Dana Pensiun. Jika tidak memungkinkan untuk mengadakan dialog yang konstruktif, Kementrian Keuangan sebaiknya mempertimbangkan menarik investasinya dari Nestlé.”
Casual-T terakhir: anggota Komite Aksi Khanewal Abdul Aziz di rumah sakit menyusul serangan oleh saudara-saudara kontraktor buruh Unilever.
Dihadapkan dengan kemungkinan kehilangan kontrak buruh yang sangat menguntungkan yang telah menyokong rezim pekerjaan lepas di pabrik Lipton tea Unilever Pakistan selama dua dekade, kontraktor-kontraktor berkolusi dengan manajemen pabrik untuk menghasut serangan kasar kepada para pekerja yang berkampanye untuk hak atas pekerjaan langsung, permanen. Provokasi-provokasi terjadi menyusul tuntutan publik oleh Poin Kontak Nasional Inggris dari OECD untuk pembicaraan yang dimediasi pemerintah untuk mencapai kesepakatan resolusi atas pengaduan IUF kepada OECD bahwa penggunaan buruh lepas secara besar-besaran oleh Unilever di Khanewal melanggar pedoman OECD untuk Perusahaan Multinasional. Selanjutnya…
Realitas buruk buruh kontrak dan ‘tanggapan’ Unilever kepada ‘pemangku kepentingan yang prihatin’.

Demonstrasi 5 Juli oleh anggota-anggota Federasi Nasional Pekerja Makanan, Minuman dan Tembakau yang melawat ke Khanewal adalah untuk menunjukkan solidaritas melawan pekerjaan lepas di Lipton Pakistan.
Lama tidak biasa ditantang oleh kenyataan di balik klaim CSR, Unilever telah merespon kepada “laporan tahunan alternatif” yang disebarkan oleh serikat buruh Belanda FNV-Bondgenoten pada rapat pemegang saham tanggal 14 Mei di Rotterdam . Sebuah isu yang sensitif khususnya untuk Unilever adalah praktek pemekerjaan di Pakistan, dimana mereka menerima serangkaian penghargaan tiada akhir termasuk “unggul” dalam Praktek Tempat Kerja Terbaik. Unilever Pakistan mengklaim bahwa mereka “dipilih untuk penghargaan ini karena inisiatif program tahunan Paspor Kesehatan Vitalitas Pribadi untuk menjamin kesehatan dan kesejahteraan semua pegawainya”. Kampanye Casual-T telah mengungkap sistem brutal diskriminasi dan eksploitasi di balik klaim-klaim ini, membuat Unilever menjadi defensif.
Selanjutnya…